Kamis, 20 September 2007

Kakiku malang...

Kaki gue BENGKAK!!!
itu yang gue sampein ke semua orang sekeliling gue.. *sambil nunjukin kaki gue*


Dulu, Teteh juga pernah bilang gitu.. Tapi waktu itu yg ada di pikiran cuma "ica sedang menggendut" atau "ica kena kaki gajah".. Gendut soal'e emang berat badan naik drastis.. kaki gajah soal'e di Bogor lagi sedang digalakkan kegiatan minum obat utk mencegah penularan filariasis, krn ternyata Bogor daerah endemik filariasis..

Tapiiii... pas kemaren search di google.. bgini jawabannya...

Duduk Berlama-lama, Bisa Kena DVT

DUDUK berjam-jam atau berlama-lama selama penerbangan internasional, secara umum orang akan berkeluh kesah "betapa membosankannya!". Adakah terlintas di kepala, bahwa sesuatu yang bernama trombosit vena dalam atau deep vein thrombosis (DVT) -- yang dapat mencabut nyawa seseorang -- sedang "mengintip"?

Ada laporan menyebut korban meninggal akibat problem kesehatan ini. Dan, banyak perusahaan penerbangan yang kemudian menayangkan bentuk-bentuk olahraga kecil yang bisa dikerjakan selama terkurung dalam pesawat, dengan maksud mengurangi risiko pembekuan darah. Terbayangkah Anda "nasib" darah yang ngumpul atau terjebak di tungkai bawah ketika seseorang duduk berjam-jam atau berlama-lama dalam penerbangan panjang? Masuk akal jika kemudian daerah pergelangan kaki jadi gemuk atau bengkak.


Itulah DVT atau trombosis vena dalam. Darah yang ngumpul di kaki akhirnya membeku di pembuluh darah vena (pembuluh balik) menyebabkan kaki
bengkak, nyeri, kemerahan, serta teraba hangat. Sebagian DVT dapat terjadi
diam-diam, tanpa menunjukkan gejala apapun. Yang menyita perhatian, karena
proses ini menyimpan fatalitas yang tragis. Ketika bekuan darah dalam pembuluh
vena kaki ini lepas, lalu menyumbat pembuluh darah paru (emboli paru).

Hampir 90% kasus ini berakhir dengan kematian. Penderitanya akan diserang
sesak nafas mendadak, nyeri dada yang intensitasnya makin parah ketika menarik
nafas, gelisah, berkeringat, batuk yang kadang-kadang disertai pengeluaran
darah, demam, jantung berdebar-debar, kadang-kadang sampai pingsan. Tungkai
bawah teraba hangat, terlihat kemerahan, bengkak, dan terasa nyeri.

Pendorong

DVT merupakan pembentukan bekuan darah (trombosit) dalam pembuluh darah balik (vena).

Terdapat beberapa faktor pendorong atau yang memudahkan
munculnya problem ini, yakni sbb.;

* Stasis (terbendungnya) vena.

Penyebabnya dapat berasal dari imobilitas (keadaan tidak bergerak dalam waktu yang lama), misalnya saat naik pesawat atau duduk di bus berjam-jam, pasien yang mesti berbaring dalam jangka waktu yang panjang, tungkai yang terbungkus gips.
Terbendungnya aliran darah vena dapat juga karena kegemukan, gagal jantung, atau sumbatan mekanik. Aliran darah vena kaki biasanya diperkuat oleh kontraksi
otot-otot betis. Pada orang yang mesti istirahat baring, duduk berjam-jam, usia
lanjut, varises, dan hamil, kontraksi otot betis seringkali terganggu. Ini
mendorong terjadinya DVT.


* Kerusakan endotel (sel-sel permukaan pembuluh darah), misalnya karena trauma saat operasi, infeksi, riwayat DVT sebelumnya, patah tulang, dan sebagainya. Luka pada sel-sel endotel ini akan merangsang aktivasi koagulasi (pembekuan darah).


* Hypercoagulable state -- keadaan-keadaan yang membuat darah mudah menggumpal. Misalnya kehamilan/pasca melahirkan, pemakai pil KB, gangguan pembekuan darah yang sifatnya diturunkan misalnya, defisiensi protein C atau protein S, defisiensi faktor V Leiden, defisiensi antitrombin III. Kanker dapat pula menjadi sumber mudahnya pembekuan darah terjadi. Bekuan darah timbul melalui mekanisme yang sangat kompleks. Suatu trauma yang mengenai sel-sel permukaan pembuluh darah akan merangsang timbulnya proses pembekuan darah. Proses ini sangat kompleks. Singkat cerita, akhirnya terbetuklah fibrin yang berupaya menyumbat luka. Dan dengan begitu perdarahan pun akan terhenti.

Pengobatan

Lokasi DVT bisa dimana saja, di tungkai bawah, mata, telinga, perut, pinggul, bahkan di otak. Gejala yang muncul tergantung dari lokasi sumbatan tersebut. Maka, timbullah kejang perut, tuli mendadak, gangguan mata, infark jantung, dan stroke. Bekuan paling sering timbul di vena-vena kaki. Tungkai bawah teraba panas dan terasa nyeri. Kejadian yang amat fatal, manakala bekuan tersebut lepas dan menyumbat pembuluh darah paru. Kematian dapat terjadi. Maka, pengobatan mesti diberikan secepatnya.


Heparin, suatu obat yang menghambat pembekuan darah mesti segera diberikan. Obat ini mesti diberikan melalui injeksi. Berikutnya warfarin yang juga memiliki
kemampuan anti-pembekuan diberikan untuk tujuan terapi jangka panjang (3-6
bulan). Tidak menutup kemungkinan pengobatan ini akan lebih panjang lagi,
khususnya jika kasus emboli terjadi lagi, atau risiko-risiko pembekuan terus
terjadi. Pada mereka yang oleh suatu sebab tidak dapat menerima oabt-obat
tersebut, diperlukan pemasangan filter IVC (inferior vena cava). Misalnya
seseorang yang terserang emboli paru, tetapi tiga hari yang lalu mengalami
perdarahan saluran cerna atas, dan karenanya tidak boleh menerima heparin atau
warfarin. Pasalnya, obat-obat ini meningkatkan risiko perdarahan.

Yang tak kalah penting, betapa pentingnya pencegahan. Sekalipun kita tak memiliki kontrol terhadap munculnya kecenderungan pembekuan darah yang bersifat keturunan, upayakan untuk mengurangi proses pembendungan.

Dalam penerbangan panjang, upayakan untuk beberapa kali mondar-mandir di lorong-lorong pesawat. Ketika pesawat transit, gunakan kesempatan itu untuk berjalan-jalan. Bukan tidak mungkin olah raga sambil duduk di atas pesawat dikerjakan. Misalnya dengan menggerakkaan kaki, memutar pergelangan kaki, menggelengkan kepala, rotasi leher, meluruskan lengan, dan sebagainya. Tak jarang, perusahaan penerbangan menayangkan aktivitas kecil yang bisa dikerjakan selama duduk atau menunggu, yang sanggup membantu sirkulasi darah.
* dr. Injil Abu Bakar-dari Balipost



Sebenernya gejala ini mulai timbul pas semester kemaren, dimana gue menghabiskan kebanyakan hari2 gue dengan DUDUK di dalam kelas.. Kalo cuma bentar, its ok! Tapi ini berjam2.. Nope.. I think maybe almost my entire life!!! Hiks...

Bayangin aja deh..
Jam 4.30 pagi gue bangun.. mandi.. trus gue makan --> DUDUK.. trus naik mobil ke kampus --> DUDUK LAGI selama kurang lebih 2 jam.. trus nyampe kampus gue jalan ngga ampe 5 menit ke depan lift.. jalan lagi sampe ke temoat duduk gue.. trus gue DUDUK LAGI bisa ampe 8 JAM!!!.. trus pulangnya, again naik lift.. trus pulang naik mobil/bis --> DUDUK LAGI selama 2 JAM!! ampe rumah, gue sering DUDUK!!
Hampir setengah hari di hidup gue (mungkin lebih..) gue habisin untuk duduk...

Gejalanya belum bikin ngeh.. cuma kaki kaya'nya sekel gitu.. kenceng.. kalo di tekuk kaya lagi pake kaos kaki ketat.. Jalanpun ada perasaan ngga nyaman..

Pas kemaren liburan.. Nasib membuat ica duduk di pesawat, ada kalo 11 jam.. belum di itung pas perjalanan naik bis.. kaki tuh jadi bengkak, mata kaki seolah2 melebar.. Poko'nya ganggu pemandangan dan ganggu aktivitas juga..

Dan sekarang.. ica balik lagi ke aktivitas ica --> kuliah.. which is musti duduk berjam2 lagi di kampus.. selama perjalanan pulang-pergi kampus (ngga mungkin kan, ica jalan kaki dari bogor ke jakarta...)

So.. apa solusinya....???

Berhubung kata salah seorang senior, pencegahan lebih baik dari pada di obati (soal'e obatnya mahal bangeeeet..), ica sudah buat rencana untuk ica sendiri tentunya...

  • Yg pasti jadi makin aware yg namanya kesehatan kaki..
  • Diusahain banyak gerak.. Setiap jeda kuliah diusahain jalan2 kecil..
  • Sebelum tidur, kakinya ditinggi'in.. jadi memudahkan aliran vena..
  • Mengurangi makan.. soal'e takut ada penimbunan lemak di pembuluh darah, trus malah makin memperberat masalah..

Mudah2an ini bisa menyelamatkan kaki ica yah.. Mohon do'anya..

Tidak ada komentar: